Apa sih Prosa ?
Prosa adalah suatu wujud ekspresi manusia yang dituangkan pada sebuah cerita . Cerita yang dimaksud adalah sebuah kejadian yang biasa terjadi di kalangan masyarakat dan dibumbui daya khayal atau imajinasi sang penulis , di dalam cerita tersebut pastilah mempunyai pemeran, peristiwa, dan alur. prosa terbagi menjadi 2 yaitu ; Prosa lama ( dongeng, hikayat,sejarah) dan prosa baru (cerpen,novel,biografi).
Apa yang kita peroleh dengan membaca prosa ?
Dalam membaca Prosa kita dapat beberapa nilai-nilai, nilai-nilai yang seperti apa ? mari kita simak dari salah satu legenda dari Indonesia bagian Timur , Maluku. Legenda Nenek Luhu
Konon
pada jaman penjajahan Belanda dahulu, ada sebuah negeri yang bertempat
di pulau Seram, Maluku, yaitu negeri Luhu. Negeri Luhu merupakan negeri
yang kaya dengan hasil cengkeh. Negeri yang penduduknya tidak terlalu
banyak tersebut dipimpin oleh seorang raja yang bernama raja Gimalaha.
Gimalaha memiliki seorang permaisuri yang bernama Puar Bulan dan seorang
putri yang bernama Ta Ina Luhu. Ta Ina Luhu berarti anak perempuan dari
Luhu atau Putri Negeri Luhu atau Putri Luhu. Ta Ina Luhu adalah anak
sulung sang raja yang memiliki perangai baik, penurut, berbudi pekerti
luhur, rajin beribadah, mandiri serta sayang pada seluruh keluarganya.
Selain Ta Ina Luhu, Raja juga mempunyai dua orang putra yaitu Sabadin
Luhu dan Kasim Luhu.
Suatu
ketika, kabar tentang kekayaan negeri Luhu di pulau Seram terdengar
oleh tentara Belanda yang berkedudukan di Ambon. Mereka pun menyusun
rencana jahat dengan niat ingin menguasai negeri Luhu. Dengan
persenjataan lengkap, mereka kemudian menyerang negeri Luhu. Raja
Gimalaha tentu saja tidak mau tunduk pada pasukan Belanda. Dengan
perlengkapan seadanya bersama dengan rakyatnya, berusaha melakukan
perlawanan sehingga pertempuran sengit pun tak dapat dihindari. Perang
sengit itu dikenal dengan Perang Pongi, dan ada juga yang menyebutnya Perang Huamual.
Dalam
pertempuran itu, penjajah Belanda berhasil menguasai negeri Luhu. Raja
Luhu dan keluarganya beserta seluruh rakyatnya tewas. Satu-satunya orang
yang selamat pada waktu itu ialah putri Raja, Ta Ina Luhu. Namun Ta Ina
Luhu tadak dibiarkan begitu saja. Ta Ina Luhu kemudian ditangkap dan
dibawa ke Ambon untuk dijadikan Istri Panglima perang Belanda.
Setibanya
di benteng Victoria Ambon, Ta Ina Luhu menolak untuk dijadikan istri
oleh panglima perang Belanda. Akibatnya Ia pun diperkosa oleh sang
penglima. Sang putri cantik itu tidak bisa berbuat apa-apa. Namun Ia
juga tak tahan dengan perlakuan sang panglima yang tidak sononoh
terhadapnya. Sang putri pun selalu berpikir keras untuk bisa keluar dari
kota Ambon.
Atas
do’anya kepada Sang Maha Pencipta, pada suatu malam Ta Ina Luhu
berhasil mengelabuhi para tentara belanda hingga sang Putri pun dapat
melarikan diri dari kota Ambon. Ia berjalan menuju ke subuah negeri yang
bernama Soya. Di negeri itu sang Putri disambut dengan sangat baik oleh
Raja Soya bahkan Ia pun kemudian dianggap sebagai saudara keluarga
istana Soya. Sang Putri kemudian diberi kamar tidur yang indah oleh Raja
Soya. Dengan sambutan tersebut, Ta Ina Luhu merasa sangat terharu
karena teringat ketika Ia dulu menjadi putri Raja. Tak terasa, air
matanya menetes membasahi kedua pipinya. Wajah kedua orang tua dan
adik-adiknya kembali terbayang dihadapannya. Betapa ia sangat merindukan
mereka.
“Ayah,
Ibu,, adik-adikku Sabadin dan Kasim,, beta sangat merindukan kalian.
Beta hanya bisa berdo’a semoga kalian tenang di alam sana!”
Setelah
beberapa bulan tinggal di istana Soya, Ta Ina Luhu diketahui hamil.
Keadaan demikian membuatnya merasa semakin berat tinggal di istana
karena tentu akan semakin merepotkan keluarga Soya. Akhirnya dengan
pemikiran yang matang, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan istana
tersebut.
“O,
Tuhan,, beta tidak mempunyai keluarga lagi di dunia ini. Tapi kehadiran
beta di istana ini hanya akan merepotkan keluarga Soya. Beta harus
pergi dari istana ini. Berilah beta petunjuk-Mu, Tuhan.” Pinta Ta Ina
Luhu.
Hingga
pada suatu malam, suasana di istana sudah sangat sepi, Ta Ina
mengendap-endap berjalan menuju ke pintu belakang istana sambil
mengawasi keadaan sekelilingnya. Rupanya ta Ina Luhu ingin pergi dari
istaana secara diam-diam. Ia sengaja tidak memberitahukan kepergiannya
kepada raja Soya karena sudah tentu mereka tidak akan mengijinkannya.
Setelah sampai di belakang istana, Ia melihat ada seekor kuda yang
ditambatkan dibawah pohon. Kuda itu adalah milik Raja Soya yang biasa
dipakai ketika akan menghadap Gubernur Ambon. Dengan hati-hati ta Ina
Luhu naik ke atas punggung kuda itu. Sebelum Ia benar-benar meningglkan
istana Soya, ia berbisik dalam hati.
“Maafkan
beta Baginda,, maafkan beta wahai seluruh keluarga istana. Kalian
sungguh baik hati kepada beta. Tapi beta terpaksa harus pergi karena
beta tidak ingin merepotkan kalian. Relakanlah Beta pergi dan kalian
jangan mencari Beta lagi.”
Setelah
itu, ta Ina Luhu yang sedang mengandung itu segera pergi sebelum ada
warga istana yang melihatnya. Ia menyusuri hutan belantara yang sepi dan
mencekam. Meskipun suasana malam terasa sangat dingin, putri raja Luhu
itu terus memacu kuda yang ditungganginya menuju ke puncak gunung.
Setibanya disana, sang putri pun berniat berhenti sejenak untuk melepas
lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ia sangat takjub
melihat pemandangan teluk Ambon yang sungguh mempesona. Pemandangan itu
sejenak dapat mengobati luka-lara sang putri.
“Oh,, negeriku,, keindahanmu sungguh mempesona.” Ucap Ta Ina Luhu dengan kagum.
Usai
berucap demikian, sang putri tiba-tiba terjatuh dari kudanya hingga tak
sadarkan diri. Rupanaya Ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa lelah
yang begitu berat setelah menempuh perjalanan jauh. Ia baru sadarkan
diri pada keesokan harinya. Dengan sisa tenaga ynag dilmilikinya, sang
putri berusaha bangkit dan berdiri disamping kudanya. Sang putri
kemudian bernaung dibawah pohon yang rindang sedangkan kudanya dibiarkan
merumput disekitarnya. Ketika matahari semakin tinggi, sang putri
merasa perutnya semakin perih. Untung saja terlihat didekatnya ada
sebatang pohon jambu biji yang lebat buahnya. Ia mendekati pohon
tersebut dan mengambil beberapa buah jambu biji yang masak, lalu ia
kembali kebawah pohon itu sambil memakannya. Dalam keadaan seperti itu,
jambu biji cukup bisa mengganjal perutnya yang lapar.
Sementara
itu, di istana Soya, Sang Raja menjadi panik ketika mengetahui Ta Ina
Luhu tidak berada dikamarnya. Seluruh keluarga istana telah mencarinya
keseluruh penjuru istana, tapi tidak jua menemukannya. Para pengawal
yang mencarinya dijalan-jalan kota Soya juga tidak membuahkan hasil.
Disaat pencarian dilakukan, seorang pengawal datang menghadap kepada
Raja Soya.
“Ampun baginda,, Hamba ingin melaporka sesuatu”. Lapor seorang pengawal istana.
“Hai,, apakah kamu sudah menemukan Putri ta Ina Luhu?? Dimana dia sekarang??” tanya Raja Soya dengan penasaran.
“Ampun
Baginda Raja,, hamba hanya ingin melaporkan bahwa kuda Sang baginda
yang ditambatkan di halaman belakang istana juga hilang. Jadi hamba
pikir putri Ta Ina Luhu pergi dengan menunggangi kuda milik Baginda.”
Jelas pengawal itu.
Mendengar
kabar itu, Raja Soya semakin panik. Ia sangat mencemmaskan keadaan
Putri Ta Ina Luhu yang sedang mengandung itu. Tanpa pikir panjang, Ia
segera membunyikan tifa (gendang kecil) sebanyak empat kali untuk memanggil Marinyo (seorang petugas negeri), dan kemudian memukulnya sebanyak enam kali untuk memanggik kepala soa (penasehat Raja). Tak selang berapa lama, kedua pejabat istana yang dipanggil datang menghadap sang raja.
“Ampun Baginda,, ada apa gerangan baginda memanggil kami?” tanya kedua pejabat itu serentak.
“segera
kumpulkan semua laki-laki yang berumur enam belas sampai empat puluh
tahun setelah itu perintahkan mereka untuk mencari dan membawa pulang
Putri Ta Ina Luhu dalam keadaan selamat!”. Titah Raja Soya.
“Titah Baginda kami laksanakan”. Jawab keduanya seraya memberi hormat.
Setelah
semua orang berkumpul, mereka dibagi kedalam beberapa kelompok.
Kemudian mereka pergi mencari sang putri dengan mengikuti jajak tapak
kaki kuda yang ditunggangi oleh sang putri.
Sementara
itu, Ta Ina Luhu masih berada di puncak gunung. Ketika harri menjelang
siang, tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang yang memanggilanya dari
jauh. Ia pun sadar, pastilah orang-orang itu adalah para pengawal Raja
Soya yang datang mencarinya. Oleh sebab itu, ia segera meningglakan
tempat itu. Tak begitu lama setelah kepergiannya, sebagian rombongan
pengawal Raja Soya pun tiba ditempat itu. Tapi mereka tidak menemukan
sang putri kecuali kulit jambu biji bekas sisa-sisa makanan sang putri.
Konon, rombongan itu kemudian menamakan tempat itu “Gunung Nona”.
Ta
Ina Luhu terus memacu kudanya menuruni lereng gunung menuju pantai
Amahusu. Karena begitu kencangnya, topi yang dikenakannya diterbangkan
angin. Menurut cerita, ketika sang putri hendak berhenti untuk
mengambilnya, topi itu tiba-tiba menjelma menjadi sebuah batu. Batu itu
kemudian diberi nama “Batu Capeu”.
Ta
Ina Luhu terus menelusuri pantai Amahusu hingga sampai ke Ambon. Tubuh
sang putri tampak begitu lemas karena menahaa lapar dan haus. Demikian
pula dengan kuda tungganganya. Setelah beberapa jauh berjalan mencari
air minum, akhirnya ia menemukan sebuah mata air. Ta Ina Luhu kemudian
meminum air dari mata air tersebut dengan sepuasnya. Konon mata tersebut
diberi nama “Air Putri”
Setela
sejenak beristirahat ditempat itu, Ta Ina Luhu berniat kembali ke
puncak Gunung Nona dengan melalui jalan yang berbeda agar tidak bertemu
dengan para pengawal Raja Soya. Namun ketika hendak beranjak dari tempat
itu, ia kembali mendengar suara orang-orang yang memanggilnya.
“Putri,,, Putri,,, Putri Ta Ina Luhu... kembalilah...! Sang Raja sedang menunggumu”
Ta
Ina Luhu pun segera naik keatas kudanya dan hendak melarikan diri.
Namun begitu ia akan memacu kudanya, tiba-tiba rombongan Raja Soya
datang menghadangnya. Dalam keadaan tedesak, Ta Ina Luhu kemudian turun
dari kudanya seraya berlutut memohon kepada Tuhan agar rombongan itu
tidak membawanya pulang ke istana.
“Oh
Tuhan..! Tolong beta ini.. Beta tidak mau kembali ke istana Soya. Beta
tidak mau merepotkan orang lain. Biarkanlah beta hidup sendirian”. Pinta
Ta Ina Luhu.
Ketika
salah seorang pengawal hendak menarik tangannya, tiba-tiba Ta Ina Luhu
menghilang secara gaib. Rombongan pengawal tersebut tersentak kaget.
Mereka hanya terperangah melhat peristiwa ajaib itu.
Sejak
peristiwa itu, penduduk Ambon sering diganggu oleh sesosok mahluk
halus. Jika hujan turun bersama cuaca panas (istilah orang Ambon “Ujang
Panas”), seringkali ada warga, terutama anak-anak yang hilang. Menurut
kepercayaan setempat, mahluk halus yang suka mengambil anak-anak
tersebut adalah penjelmaan dari Ta Ina Luhu. Sejak itu pula, Ta Ina Luhu
dipanggil dengan sebutan Nenek Luhu. Hanya saja hingga saat ini tak
seorangpun yang tau mengapa Nenek Luhu suka mengganggu penduduk Ambon,
terutama anak-anak.
Nilai-nilai yang kita dapat peroleh adalah;
Keseimbangan wawasan yaitu pengertian / wawasan yang kita
dapat dengan apa yang orang lain dapatkan dapat seimbang dengan satu sama lain .
maksudnya kita (khususnya di Indonesia) adalah masyarakat yang beragam budaya ,
Bahasa , serta pemikirannya , maka keaneka ragaman ini memiliki pemahamannya
masing-masing . contohnya kita ambil dari cerita di atas; Banyak dari mereka
yang mengira bahwa Ta ina Luhu hanya sekedar nama , tetapi Tai na Luhu berarti anak
perempuan dari Luhu . dengan demikian seimbanglah wawasan yang kita dapatkan ,
kita mendapatkan hal-hal biasa tetapi cukup berarti dan dapat menambah wawasan
kita .
Kesenangan yaitu hal
yang kita dapat setelah membaca prosa tersebut sehingga membuat kita lebih
merasa senang , mengapa ? karna dengan membaca kita lebih ingin tahu dan
meningkatkan mood yang ada . walaupun
cerita di atas termasuk cerita horror / menyeramkan . tetapi dengan alur cerita
yang menegangkan , serta keterangan peristiwa pada zaman dahulu kala membuat kita lebih ingin tahu dan
menerka-nerka apa yang akan terjadi , Apalagi untuk para pembaca yang suka pada
cerita horror .
Warisan Budaya yaitu apa saja yang warisan budaya-budaya yang terdapat di cerita
tersbut . seperti tertera di atas dahulu kita masih dalam masa kerajaan dan peperanganserta
penjajahan dimana memperebutkan tanah yang subur dan bermanfaat . sampai
sekarang pun kiita tetap di jajah oleh negeri luar , tanah milik kita tetapi
orang luar yang memanfaatkan .
Informasi yaitu beberapa pengetahuan/wawasan/pemikiran yang
kita dapat untuk menambah pengetahuan yang kita miliki menjadi lebih luas .
contoh yang dapat kita ambildari cerita diatas adalah Demikian cerita legenda Nenek Luhu dari daerah Ambon, Maluku. Legenda
di atas mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam
kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua nilai moral yang dapat
dipetik dari cerita di atas, yaitu nilai pantang menyerah dan nilai
kemandirian. Kedua nilai tersebut terlihat pada sikap dan prilaku Ta Ina
Luhu. Nilai pantang menyerah terlihat ketika ia tidak pernah berputus
asa dalam berusaha mencari cara untuk bisa lolos dari sergapan penjajah
belanda karena tidak tahan lagi terus diperlakukan tidak senonoh.
Sementara itu, nilai kemandirian Ta Ina Luhu terlihat ketika ia tidak
ingin merepotkan orang lain. Itulah sebabnya, ia pergi dari istana Soya
tanpa memberi tahu Raja Soya.
Lalu apa hubungan Prosa dengan Ilmu Budaya Dasar ?
Dengan Prosa kita lebih mengenal apa budaya- budaya yang terkandung . Kita dapat menambah wawasan kita sebagai masyarakat dengan mengambil inti sari cerita yang ada . Dengan demikian Ilmu budaya dasar dan prosa saling terkait karna dapat membuat kita belajar peran kita di masyarakat yang beranekaragamnya ini .
No comments:
Post a Comment